AL QUR’AN DAN ILMU PENGETAHUAN
A. Penafsiran ilmiah Al Qur an
Al-Qur an AL-Karim, yang merupakan sumber utama ajaran
Islam, berfungsi sebagai “petunjuk kejalan yang sebaik-baiknya” ( QS 17:9) demi
kebahagiaan manusia di dunia dan di akherat. Petunjuk-petunjuk tersebut banyak
yang bersifat umum dan global.
Di samping itu, Al Qur an juga memerintahkan umat
manusia untuk memperhatikan ayat-ayat Al Qur an (QS 39:18 ; 47:24), dengan
perhatian yang, di samping dapat mengantar mereka kepada keyakinan dan
kebenaran ilahi, juga untuk menemukan alternative-alternatif baru melalui
pengintegrasian yata-ayat tersebut dengan perkembengan situasi masyarakat tanpa
mengorbankan prinsi-prinsip pokok ajarannya (Al Ushul Al ‘Ammah) atau
mengabaikan perincian-perincian yang tidak termasuk dalam wewenang ijtihad.
Dengan demikian, akan ditemukan kebenaran-kebenaran penegasan Al Qur an, bahwa
:
- Allah akan memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-NYA di seluruh ufuk dan pada diri manusia, sehingga terbukti bahwa Al Qur an adalah benar.
- Fungsi di turunkannya kitab suci kepada para Nabi (tentunya terutama Al Qur an), adalah Untuk memberikan jawaban atau jalan keluar bagi perselisihan dan problem-problem yang dihadapi masyarakat.
Perkembangan penafsiran Al Qur an.
Dalam rangka pembuktian Al Qur an, wahyu ilahi ini
telah mengajuka tantangan kepada siapa pun yang meragukannya untuk menyusun
kembali “semisal” Al Qur’an.
Arti semisal mencakup segala macam aspek yang terdapat
dalam Al Qur’an, salah satu di antaranya adalah kandungannya yang antara lain
berhubungan dengan ilmu pengetahuan yang belum dikenal pada masa turunnya.
Dari sini tidaklah mengherankan jika sementara pihak
dari kaum muslim berusaha untuk membuktikan kemukjizatan al Qur’an, atau
kebenaran-kebenarannya sebagai wahyu ilahi melalui penafsiran, sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan, walaupun tidak jarang dirasakan adanya
“pemaksaan-pemaksaan”dalam penafsiran tersebut yang antara lain diakibatkan
oleh keinginan untuk membuktikan kebenaran ilmiah melalui Al Qur’an, dan bukan
sebaliknya.
Corak penafsiran ilmiah ini telah lama di kenal.
Benihnya bermula pada masa dinasti abbasiyah, khususnya pada masa pemerintahan
Khalifah Al-Ma’mun (w. 1059-1111M) yang secara panjang lebar dalam kitabnya ihya’
‘ulum Al-Din dan jawahir Al qur’an mengemukakan alasan-alasan yang
membuktika pendapatnya itu. Al Ghazali mengatakan bahwa : “Segala macam ilmu
pengetahuan, baik yang terdahulu (masih ada atau telah punah), maupun yang
kemudian ; baik yang telah diketahui maupun belum, semua bersumber dari Al
Qur’an Al Karim.
Hal ini, menurut Al Ghazali, karena segala macam ilmu
termasuk dalam af’al (perbuatan-perbuatan) Allah dan sifat-sifat NYA.
Sedangkan Al Qur’an menjelaskan tentang zat, af’al dan sifat-NYA.
Pengetahuan tersebut tidak terbatas. Dalam Al Qur’an terdapat isyarat-isyarat
menyangkut prinsip-prinsip pokoknya. Hal terakhir ini, antara lain, dibuktikan
dengan mengemukakan ayat, “Apabila aku sakit maka Dia-lah yang mengobatiku”
(QS 26:80).
“Obat” dan “penyakit”, menurut Al Ghazali, tidak dapat
diketahui kecuali oleh orang yang berkecimpung di bidang kedokteran. Dengan
demikian, ayat di atas merupakan isyarat tentang ilmu kedokteran.
Korelasi antara Al Qur’an dan Ilmu
Pengetahuan
Membahas hubungan antara Al Qur’an
dan ilmu pengetahuan bukan dinilai dari banyak atau tidaknya cabang-cabang ilmu
pengetahuan yang dikandungnya, tetapi yang lebih utama adalah melihat : adakah
Al qur’an atau jiwa ayat-ayatnya menghalangi ilmu pengetahuan atau
mendorongnya, karena kemajuan ilmu pengetahuan tidak hanya diukur melalui
sumbangan yang di berikan kepada masyarakat atau kumpulan ide dan metode yang
dikembangkannya, tetapi juga pada sekumpulan syarat-syarat psikologis dan
social yang diwujudkan, sehingga mempunyai pengaruh (positif atau negative)
terhadap kemajuan ilmu pengetahuan.
Sejarah membuktikan bahwa Galileo
ketika mengungkapkan penemuan ilmiahnya tidak mendapat tantangan dari satu
lembaga ilmiah, kecuali dari masyarakat dimana ia hidup. Mereka memberikan
tantangan kepadanya atas dasar kepercayaan agama. Akibatnya, Galileo pada
akhirnya menjadi korban penemuannya sendiri.
Dalam Al qur’an ditemukan kata-kata
“ilmu” dalam berbagai bentuknya yang terulang sebanyak 854 kali. Disamping itu,
banyak pula ayat-ayat Al qur’an yang menganjurkan untuk menggunakan akal
pikiran, penalaran, dan sebagainya, sebagaimana dikemukakan oleh ayat-ayat yang
menjelaskan hambatan kemajuan ilmu pengetahuan, antara lain :
1. Subjektivitas
(a) suka dan tidak suka (baca antara lain, QS 43:78 ; 7:79); (b) taqlid atau
mengikuti tanpa alasan (baca antara lain, QS 33:67 ; 2:170).
2. Angan-angan
dan dugaan yang tak beralasan (baca antara lain, QS 10:36).
3. Bergegas-gegas
dalam mengambil keputusan atau kesimpulan (baca antara lain QS 21:37).
4. Sikap angkuh
(enggan untuk mencari atau menerima kebenaran) (baca antara lain QS 7:146).
Di samping
itu, terdapat tuntutan tuntutan antara lain :
1. Jangan
bersikap terhadap sesuatu tanpa dasar pengetahuan (QS 17:36), dalam arti tidak
menetapkan sesuatu kecuali benar-benar telah mengetahui dulu persoalan (baca
antara lain QS 36:17), atau menolaknya sebelum ada pengetahuan (baca antara
lain, QS 10:39).
2. Jangan
menilai sesuatu karena factor ekstern apa pun walaupun dalam dalam pribadi
tokoh yang paling diagungkan.
Ayat- ayat semacam inilah yang
mewujudkan iklim ilmu pengetahuan dan yang telah melahirkan pemikir-pemikir dan
ilmuwan-ilmuwan Islam dalam berbagai disiplin ilmu. “tiada yang lebih baik
dituntun dari suatu kitab akidah (agama) menyangkut bidang ilmu kecuali anjuran
untuk berpikir, serta tidak menetapkan suatu ketetapan yang menghalangi umatnya
untuk menggunakan akalnya atau membatasinya menambah pengetahuan selama dan
dimana saja ia kehendaki. Inilah korelasi pertama dan utama antara Al qur’an
dan ilmu pengetahuan.
Korelasi kedua dapat ditemukan pada
isyarat-isyarat ilmiah yang tersebar dalam sekian banyak ayat Al qur’an yang
berbicara tentang alam raya dan fenomenanya. Isyarat-isyarat tersebut sebagian
nya telah diketahui oleh masyarakat arab ketika itu. Namun apa yang mereka
ketahui itu masih sangat terbatas dalam perinciannya.
Dalam dalam penafsiran ilmiah
terhadap ayat-ayat Al qur’an, membawa kita kepada, paling tidak, tiga hal pula
hal yang perlu di garisbawahi, yaitu (1) Bahasa (2) konteks ayat-ayat ; dan (3)
sifat penemuan ilmiah.
1. Bahasa
Disepakati oleh semua pihak bahwa
untuk memahami kandungan Al qur’an dibutuhkan pengetahuan bahasa arab. Untuk
memahami arti suatu kata dalam rangkaian redaksi suatu ayat, seorang terlebih
dahulu harus meneliti apa saja pengertian yang dikandung oleh kata tersebut.
Kemudian menetapkan arti yang paling tepat setelah memperhatikan segala aspek
yang berhubngan ayat tadi.
2. Konteks
antara kata atau ayat
Memahami pengertian suatu kata dalam
sdalam rangkaian satu ayat tidak dapat dilepaskan dari konteks kata tersebut
dengan keseluruhan kata dalam redaksi ayat tadi.
3. Sifat
penemuan ilmiah
Seperti telah dikemukakan di atas
bahwa hasil pemikiran seseorang dipengaruhi oleh banyak factor, antara lain,
perkembangan ilmu pengetahuan dan pengalaman-pengalamannya. Perkembangan ilmu
pengetahuan sudah sedemikian pesatnya, sehingga dari faktor ini saja pemahaman
terhadap redaksi Al qur’an dapat berbeda-beda.
Seperti yang telah dikemukakan bahwa
salah satu pembuktian tentang kebenaran
Al qur’an adalah ilmu pengetahuan dari berbagai
disiplin yang diisyaratkan. Memeng terbukti, bawa sekian banyak ayat-ayat Al
qur’an yang berbicara tentang hakikat ilmiah yang tidak dikenal pada masa
turunnya, namu terbukti kebenarannya di tengah-tengah perkembangan ilmu,
seperti :
- Teori tentang expanding universe (kosmos yang mengembang) (QS 51:47 ).
- Matahari adalah planet yang bercahaya sedangkan bulan adalah pantulan dari cahaya matahari (QS 10:5).
- Pergerakan bumi mengelilingi matahari, gerakan lapisa-lapisan yang berasal dari perut bumi, serta bergeraknya gunung sama dengan pergerakan awan (QS 27:88).
- Zat hijau daun (klorofil) yang berperanan dalam mengubah tenaga radiasi matahari menjadi tenaga kimia melalui proses foto sintesis sehingga menghasilkan energy (QS 36:80).bahkan, istilah Al qur’an, al syajar al akhdhar (pohon yang hijau) justru lebih tepat dari istilah klorofil (hijau daun), karena zat-zat tersebut bukan hanya terdapat dalam daun saja tapi di semua bagian pohon, dahan dan ranting yang warnanya hijau.
- Bahwa manusia diciptakan dari sebagian kecil sperma pria dan yang setelah fertilisasi (pembuahan) berdempet di dinding rahim (QS 86:6 dan 7; 96:2).
Contohnya juga, para ulam menafsirkan arti kata al
‘alaq dalam ayat-ayat yang menerangkan proses kejadian janin dengan al-dam
al-jamid atau segumpal darah yang beku. Dan dapat disimpulkan bahwa proses
.
Di persembahkan untuk isteri Eka Farida Dan Anak Ifel
Afriyanti Dan Fitri Nurhidayani .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar