Jumat, 18 Februari 2022

Coretan ku di penghujung Tahun 2020

 Terkait soal musrembang atau musyawarah pembangunan ketika para RT/RW agar memberikan usulan.Dan kami sepakat dengan pengurus RT yang lain mengusulkan beberapa usulan Tahun 2018.di Antaranya

1.Pengerasan jalan yang sudah di ukur

2.Penutupan selokan (Grill gutter)

Dll.Dan sudah di proses yang rencananya akan di realisasikan di Tahun 2020 . Ternyata di Tahun 2020 

Hasilnya zong Alias Nihil. Ini yang membuat warga kecewa.dengan pihak Terkait.dalam hal ini pemdes atau Pemda. Karena merasa di PHP in.

Senin, 03 Mei 2021

Perdagangan yang tidak pernah merugi

Keutamaan Membaca Al Qur’an


Sebagian orang malas membaca Al Quran padahal di dalam terdapat petunjuk untuk hidup di dunia.
Sebagian orang merasa tidak punya waktu untuk membaca Al Quran padahal di dalamnya terdapat pahala yang besar.
Sebagian orang merasa tidak sanggup belajar Al Quran karena sulit katanya, padahal membacanya sangat mudah dan sangat mendatangkan kebaikan. Mari perhatikan hal-hal berikut:

Membaca Al Quran adalah perdagangan yang tidak pernah merugi

{الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ (29) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ (30)}
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. “Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30).
Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
قال قتادة  رحمه الله: كان مُطَرف، رحمه الله، إذا قرأ هذه الآية يقول: هذه آية القراء.
“Qatadah (wafat: 118 H) rahimahullah berkata, “Mutharrif bin Abdullah (Tabi’in, wafat 95H) jika membaca ayat ini beliau berkata: “Ini adalah ayat orang-orang yang suka membaca Al Quran” (Lihat kitab Tafsir Al Quran Al Azhim).

sumber muslim.or.id

Rabu, 01 Juni 2016

Ilmu Pengetahuan,Teknologi,dan Seni Dalam Islam.


Kapan lagi belajar Al-Quran.kalau nggak di mulai dari sekarang...?



Al-QURAN DAN RESPON KEMAJUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI






MAKALAH INI DI SUSUN DALAM RANGKA MEMENUHI TUGAS
MATA KULIAH RESPONSI AL-QURAN




      DI SUSUN OLEH : SUMANTO
                                                                        NIM   : 14.30074
    DOSEN PENGAMPU : HUDORI S.Ag



JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA
SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER MUHAMMADIYAH  JAKARTA 2016



Al-QURAN DAN RESPON KEMAJUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI








MAKALAH INI DI SUSUN DALAM RANGKA MEMENUHI TUGAS
MATA KULIAH RESPONSI AL-QURAN




DI SUSUN OLEH : SUMANTO
                                                                     NIM   : 14.30074
                                        DOSEN PENGAMPU  : HUDORI S.Ag






JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA
SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER
MUHAMMADIYAH  JAKARTA 2016
  

Stmik-mjbekasi | i


KATA PENGANTAR

 Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME atas limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh dosen pengampu matakuliah Responsi Al-Quran. Hudori S.Ag .Makalah ini ditulis dari hasil penyusunan data-data sekunder yang penulis peroleh dari buku panduan yang berkaitan dengan Responsi Al-Quran serta infomasi dari media massa yang berhubungan dengan Responsi Al-Quran, tak lupa penyusun ucapkan terima kasih kepada pengajar matakuliah Responsi Al-Quran atas bimbingan dan arahan dalam penulisan makalah ini. Juga kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah mendukung sehingga dapat diselesaikannya makalah ini Penulis harap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua, dalam hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai Responsi Al-Quran , khususnya bagi penulis. Memang makalah ini masih jauh dari sempurna, maka penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik.
       Sebagai agama yang universal Islam tidak hanya menitikberatkan pada persoalan ukhrawi  saja seperti ibadah, aqidah dan tauhid. Pada kenyataannya, Islam juga sangat memerhatikan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni (IPTEKS) dalam kehidupan umat manusia. Itulah sebabnya dalam al-quran tidak hanya mengatur tentang ubudiyah saja tetapi juga banyak memuat ayat-ayat yang berkenaan dengan IPTEK dan seni. Hal itu karena disamping ditentukan oleh nilai-nilai peribadatannya kepada Allah, martabat manusia juga ditentukan oleh kemampuannya mengembangkan IPTEK dan seni, untuk kemanfaatan hidupnya. Hal itu karena disamping ditentukan oleh nilai-nilai peribadatannya kepada Allah, martabat manusia juga ditentukan oleh kemampuannya mengembangkan IPTEK dan seni, untuk kemanfaatan hidupnya. Dengan IPTEK alam dan isinya yang telah dianugrahkan Allah kepada manusia dapat dieksplorasi dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan manusia. Sedangkan dengan seni manusia bias menjaga keasrian alam, agar selalu tetap dalama fitrahnya sebagai alam dan mencegah ketidak seimbangan yang mungkin terjadi sebagai akibat dari kemajuan IPTEK. Untuk itulah Islam tidak memisahkan antara ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dengan masalah peribadatan lainnya.
      Akhirnya mohon maaf atas kurang dan lebihnya kami ucapkan terimakasih.


                                                                                                              Bekasi  Kamis 28 Januari  2016
                                                                                                              Penyusun
         

                                                                                                              Sumanto





| ii

DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR..........................................................................................                 i
DAFTAR ISI      ...................................................................................................                 ii

BAB  I                  
PENDAHULUAN...............................................................................................                  1
Latar Belakang  ....................................................................................................                  2
1.1    Rumusan Masalah ........................................................................................                   3
1.2    Tujuan Penulisan  ..........................................................................................                  3

 BAB II
 PEMBAHASAN  
       1.1    A  Pengertian ilmu pengetahuan , teknologi dan seni dalam islam  .............                  4
       1.2   B   Iman, ilmu dan amal sebagai kesatuan   ...................................................                  6

       BAB III
1.3    C Keutamaan orang beriman dan berilmu ......................................................                8

       BAB IV
1.4    D Tanggung jawab ilmuan terhadap alam lingkungannya ...............................               10
AL-QURAN Dan Ilmu Pengetahuan  .............................................................               11
Korekasi Antara Al-Quran Dan Ilmu Pengetahuan  ........................................               13

BAB V
PENUTUP   .............................................................................................................              13
KESIMPULAN .......................................................................................................                          17
DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................             18



















| iii


BAB I
PENDAHULUAN

          Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang,Yang telah mengutus Nabi Muhammad Saw.untuk menyampaikan Agama yang hak,memberi petunjuk kepada segenap manusia ke jalan kebaikan,untuk kehidupan di dunia,dan keselamatan di Akhirat.
Pendidikan Agama Islam adalah usaha untuk memperkuat iman dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan ajaran Islam, bersikap inklusif, rasional dan filosofis dalam rangka menghormati orang lain dalam hubungan kerukunan dan kerjasama antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional (UU No. 2 Tahun 1989).
Menutut ajaran islam kemiskinan dan kefakiran cepat mengakibatkan manusia terjerumus ke dalam kekufuran dan keingkaran kepada Allah SWT Bahkan dapat mengurangi bekal hidup di Akhirat nanti.Oleh karena itu Agama Islam (dinul Islam) menunjukan kenyataan tersebut dan mendorong manusia untuk berani menghadapi kenyataan melalui perjuangan dan kerja keras serta usaha yang terus menerus tanpa mengenal putus asa .
             Prinsip ajaran Islam lainya adalah bahwa seseorang akan memperoleh bagian dari apa yang telah di usahakanya sesuai dengan kemampuan dan kadar usahanya sendiri.Islam tidak menjanjikan balasan berupa pahala dan datangnya pertolongan Alloh SWT tanpa melalui usaha dan jerih payah manusia itu sendiri.Melalui prinsip ini maka nampaklah bahwa Islam mendorong manusia untuk hidup dinamis,Tidak menyerah kepada nasib dan keadaan lingkungan yang di hadapinya.
Di balik ajaranya yang penuh dengan pedagogis,Islam telah meletakan suatu kekuatan essensial bagi hidup manusia itu sendiri berupa keimanan yang bersumber pada”Tauhid”Prinsip ajaran tentang tauhid ini mengandung pengertian yang mendidik manusia untuk mengimani adanya suatu kekuatan mutlak yaitu Alloh SWT,Tuhan Yang Maha Esa yang mutlak kekuasaaNya tidak terbagi-bagi kepada siapapun dan oleh siapapun dalam alam jagad raya ini.Keimanan atau keyakinan tentang tauhid itulah yang dapat memancarkan ssikap dan tingkah laku manusia berpribadi muslim yang penuh dengan  integritas,loyalitas tunggal,idealitas,sosialitas,dan moralitas yang tinggi.













 | 1

LATAR BELAKANG MASALAH

Di zaman modern pada saat ini ilmu pengetahuan sangat dibutuhkan dalam kemajuan suatu bangsa, serta ilmu tersebut akan  berpengaruh terhadap taraf ekonomi, social, dan intelktual seseorang. Dari tahun ketahun IPTEK sudah berkembang dengan pesat. Bahkan untuk oknum-oknum tertentu IPTEK merupakan suatu kebutuhan primer.
Islam sangat memperhatikan pentingnya ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam kehidupan umat manusia. Martabat manusia disamping ditentukan oleh peribadahannya kepada Allah, juga ditentukan oleh kemampuan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Bahkan di dalam Al-Qur’an sendiri Allah menyatakan bahwa hanya orang yang berilmulah yang benar-benar takut kepada allah
            Dialog antara Allah dengan malaikat ketika Allah mau menciptakan manusia dan malaikat mengatakan bahwa manusia akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, Allah membuktikan keunggulan manusia daripada malaikat dengan kemampuan manusia menguasai ilmu melalui kemampuan menyebutkan nama-nama. IPTEK dan seni dalam praktek mampu mengangkat harkat dan martabat manusia karena melalui IPTEK dan seni manusia mampu melakukan eksplorasi kekayaan alam yang disediakan oleh Allah. Karena itu dalam pengembangan ilmu IPTEK dan seni, nilai-nilai Islam tidak boleh diabaikan agar hasil yang diperoleh memberikan kemanfaatan sesuai dengan fitrah hidup manusia.



























| 2
RUMUSAN MASALAH

1.      Bagaimana konsep IPTEKS seni dalam islam ?
2.      Bagaimana korelasi antara iman , ilmu dan amal di dalam kehidupan ?
3.      Bagaimana menjelaskan keutamaan orang beriman ?
4.      Bagaimana komitmen islam dalam ilmu pengetahuan ?




TUJUAN

Tujuan dari makalah ini adalah agar mampu :
1.    Mengetahui dan menjelaskan tentang konsep IPTEK dalam islam.
2.    Mengetahui apa saja yang menjadi sumber ilmu pengetahuan dalam islam.
3.    Menjelaskan korelasi antara iman, ilmu dan amal di dalam kehidupan.
4.    Menjelaskan keutamaan orang yang berilmu.
5.    Mengetahui komitmen islam terhadap lmu pengetahuan.
6.    Mengetahui modernisasi  pendidikan dalam islam.
7.    Mengetahui komitmen islam terhadap ilmu pengetahuan.





















 | 3
BAB II
PEMBAHASAN
ILMU PENGETAHUAN , TEKNOLOGI DAN SENI DALAM ISLAM

1.1  A.Konsep Ilmu Pengetahuan , Teknologi dan Seni dalam Islam
Pengetahuan dapat di artikan sebagai hasil tahu manusia terhadap sesuatu objek yang dihadapi, hasil usaha manusia untuk memahami suatu objek tertentu. Maka , pengetahuan adalah segala fenomena alam yang dapat dicapai oleh indra manusia . Konsekwensi logis dari pengetahuan akan melahirkan berbagai pengalaman manusia , akan tetapi pengalaman manusia ini terkadang kebenarannya tidak mutlak dan perlu diuji lagi.
Kata sains disadur dalam bahasa Indonesia  menjadi ilmu pengetahuan , sedangkan dalam sudut pandang filsafat ilmu, pengetahuan dengan ilmu sangat berbeda maknanya. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia melalui tanggapan panca indera dan instuisi, sedangkan ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang telah diinterpretasi , diorganisasi dan disistematisasi sehingga menghasilkan kebenaran obyektif ,  sudah diuji kebenarannya dan dapat diuji ulang secara alamiah. Secara etimologis kata ilmu berarti kejelasan , karena segala yang terbentuk dari akar katanya mempunyai cirri kejelasan (M. Daud Ali, 1998:69)
Istilah teknologi merupakan produk ilmu pengetahuan. Dalam sudut pandang budaya , teknologi merupakan salah satu unsur  budaya sebagai hasil penerapan praktis dari ilmu pengetahuan. Meskipun pada dasarnya teknologi juga memiliki karakteristik obyektif dan netral. Dalam situasi tertentu teknologi tidak netral lagi karena memiliki potensi untuk merusak dan potensi kekuasaan. Disinilah letak perbedaan ilmu pengetahuan dengan teknologi.
Teknologi dapat membawa dampak positif berupa kemajuan dan kesejahteraan bagi manusia juga sebaliknya dapat membawa dampak negative berupa ketimpangan-ketimpangan dalam kehidupan manusia dan lingkungannya yang berakibat kehancuran alam semesta. Netralitas teknologi dapat digunakan untuk kemanfaatan sebesar-besarnya bagi kehidupan manusia dan atau  digunakan untuk kehancuran manusia itu sendiri. Oleh sebab itu kebenaran ipteks sangat relatif. Sumber ipteks dalam islam adalah wahyu allah. Ipteks yang islami selalu mengutamakan kepentingan orang banyak dan kemaslahatan bagi kehidupan manusia. Untuk
 | 4
itu ipteks dalam pandangan islam tidak bebas nilai. Integrasi ipteks dengan agama
merupakan suatu keniscayaan untuk menghindari terjadinya proses sekularisasi yaitu pemisah antara doktrin-doktrin agama dengan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (Hamda Mansoer,2004:93)
Tujuh factor yang menjadi pendorong bagi kemajuan IPTEK di dunia islam pada abad yang lalu, antara lain:
1.   kesatuan agama dan budaya agama islam
2.      arabisasi dan peranan bahasa arab
3.      akademi, sekolah, observasi, dan perpustakaa
4.      kebijakan Negara tentang pengembangan IPTEK
5.      Perlindungan Negara sangat jelas terhadap para ilmuan dan para insinyur
6.      Penelitian, eksperimen dan penemuan baru
7.      Perdagangan internasional
Seni adalah hasil ungkapan akal dan budi manusia dengan segala prosesnya. Seni merupakan ekspresi jiwa seseorang. Hasil ekspresi jiwa tersebut berkembang menjadi bagian dari budaya manusia. Seni identik dengan keindahan. Keindahan yang hakiki identik dengan kebenaran. Keduanya memiliki nilai yang sama yaitu keabadian. Seni yang lepas dari ketuhanan tidak akan abadi karena ukurannya adalah hawa nafsu bukan akal dan budi. Seni mempunyai daya tarik yang selalu bertambah bagi orang-orang yang kematangan jiwanya terus bertambah.
Menurut Ernst Diez dalam Muhammad abdul jabbar (1998:2) cirri ciri seni islam atau seni islam adalah seni yang mengungkapkan sikap pengabdian kepada allah SWT
           
            Syarat-syarat ilmu.
Suatu pengetahuan dapat dikategorikan sebagai ilmu apabila memenuhi tiga unsur pokok sebagai berikut:
1.      Ontologi artinya bidang studi yang bersangkutan memiliki obyek studi yang jelas. Obyek studi sebuah ilmu  ada dua yaitu obyek material dan obyek formal.
2.      Epistimologi artinya bidang studi yang bersangkutan memiliki metode kerja yag jelas. Ada tiga metode kerja suatu bidang studi yaitu metode deduksi, induksi dan edukasi.

 | 5
3.      Aksiologi artinya bidang studi yang bersangkutan memiliki nilai guna atau kemanfaatannya.
Bidang  studi tersebut dapat menunjukkan nilai-nilai teoritis,hukum—hukum, generalisasi,  kecenderungan umum, konsep-konsep, dan kesimpulan-kesimpulan logis, sistematis dan koheren.

1.2  B. Iman , ilmu dan Amal Sebagai Kesatuan
            Islam merupakan ajaran agama yang landasan pengembangannya adalah iman. Iman adalah kepercayaan terhadap wujud zat yang maha mutlak yang menjadi tujuan hidup manusia. Iman merupakan fundamen dalam sistem ajaran islam. Iman merupakan potensi dasar  yang harus di kembangkan dan  pengembangannya adalah dalam bentuk amal. Iman tanpa amal sama saja potensi yang tak dikembangkan.
            Di dalam pengetahuan teknologi , dan seni terdapat hubungan yang harmonis dan dinamis yang terintegrasi ke dalam suatu sistem yang disebut dinul islam, yang terkandung tiga unsure pokok yaitu akidah, syari’ah dan akhlak. Dengan kata lain ilmu , dan amal sholeh.
            Ada tiga inti ajaran islam yaitu iman , islam , dan ikhsan. Ketiga inti ajaran itu terintegrasi didalam sebuah sistem ajaran yang disebut dinul islam Dalam QS 14 (ibrahim) :24-25 yang artinya : “tidaklah kamu perhatikan bagaimana allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (dinul islam)seperti sebatang pohon yang baik, akarnya kokoh (menghujam kebumi)dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu mengeluarkan buahnya setiap musim dengan seizing tuhannya,. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat”.
Ayat diatas menggambarkan keutuhan antara iman , ilmu dan amal atau aqidah. Syari’ah dan akhlak dengan menganalogikan bangunan dinul islam bagaikan sebatang pohon yang baik. Akarnya menghujam ke bumi , bbatangnya menjulang tinggi ke langit , cabangnya atau dahannya rindang, dan buahnya amat lebat.
            Islam melihat bahwa IPTEKS dan agama adalah sesuatu yang memiliki kaitan. Sains tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai keagamaan. Agama menjadi landasan segala prilaku manusia termasuk didalam sains dan teknologi . islam melihat sains sebagai suatu perkara yang amat penting karena dengan sains dan teknologi manusia dapat :

 | 6
1.      Mengenal tuhannya
2.      Menegakkan hakikat kebenaran
3.      Membawa manusia kepada sikap tafakkur dan berfikir
4.      Membantu manusia memenuhi keperluan material untuk kehidupannya
5.      Membantu manusia dalam melaksanakan syariat
6.      Menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam
Perbuatan baik seseorang tidak akan bernilai amal shaleh apabila perbuatan tersebut tidak di bangun di atas landasan iman dan takwa. Sama halnya pengembangan ipteks yang lepas dari keimanan dan ketakwaan , tidak akan bernilai ibadah serta tidak akan menghasilkan kemaslahatan bagi umat manusia dan alam lingkungannya. Apabila IPTEKS tidak dikembangkan di atas dasar iman , maka yang akan timbul adalah kerusakan dan kehancuran bagi kehidupan umat manusia.
Beriman kepada Allah adalah kebutuhan yang sangat mendasar bagi seseorang. Allah memerintahkan agar ummat manusia beriman kepada-Nya, sebagaimana firman Allah yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman. Tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al Qur’an) yang diturunkan kepada RasulNya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasulNya, dan hari kemudian, maka sungguh orang itu telah tersesat sangat jauh.” (Q.S. An Nisa : 136)
Ayat di atas memberikan penjelasan bahwa Bila kita ingkar kepada Allah, maka akan mengalami kesesatan yang nyata. Orang yang sesat tidak akan merasakan kebahagiaan dalam hidup. Oleh karena itu, beriman kepada Allah sesungguhnya adalah untuk kebaikan manusia.





 | 7
BAB III
1.3  C. Keutamaan Orang Beriman dan Berilmu
            Perbuatan baik seseorang tidak akan bernilai amal shaleh apabila perbuatan tersebut tidak di bangun diatas nilai-nilai iman dan ilmu yang benar. Sama halnya pengembangan ipteks yang lepas dari keimanan dan ketakwaan tidak akan bernilai ibadah serta tidak akan menghasilkan kemaslahatan bagi umat manusia dan dan alam lingkungannya bahkan akan menjadi malapetaka bagi kehidupannya sendiri.
            Manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan yang paling sempurna. Kesempurnaannya karena dibekali seperangkat potensi. Potensi yang paling utama adalah akal. Akal berfungsi untuk berfikir hasil pemikirannya adalah ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
            Ilmu yang dikembangkan atas dasar keimanan dan ketakwaan kepada allah Swt, akan memberikan jaminan kemaslahatan bagi kehidupan umat manusia termasuk bagi lingkungannya. Allah berjanji dalam QS 58(al-Mujadalah) :11 yang artinya “allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”
Disamping itu Rasullulah SAW banyak memberikan perumpamaan tentang keutamaan orang yang berilmu dengan sabdanya : “carilah ilmu walaupun di negeri china, mencari ilmu itu wajib bagi kaum muslim laki-laki dan perempuan sejak dari ayunan sampai ke liang lahat”.
Berikut ini adalah beberapa ayat al-Qur’an dan hadist yang dapat dijadikan sebagai dalil orang yang beriman dan berilmu memiliki keutamaan dan derajat yang istimewa.
1.      Surat az-Zumar ayat : 9 yang artinya “katakanlah : “adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”
2.      Surat father ayat : 28 yang artinya : “sesungguhnya yang takut kepada allah diantara hamba-hambNya adalah ulama.     





 | 8
3.      Hadits riwayat bukhori yang artinya : “barang siapa melalui sesuata jalan untuk mencari ilmu, maka allah memudahkan jalan baginya kesurga.
4.      Hadist riwayat tirmidzi (sunan tirmidzi juz 4) yang artinya : “dunia dilaknat, dilaknat apa yang ada di dalamnya kecuali zikir kepada allah Taa’ala dan orang alim (berilmu)atau penuntut ilmu”
5.      Hadits riwayat tirmidzi yang artinya :”keutamaan orang pandai terhadap orang yang beribadah adalah sebagai mana keutamaanku atas orang yang paling rendah diantara kalian.”dilanjutkan :”sesungguhnya allah , malaikatNya, penghuni langit dan bumi sampai semut didalam lubangnya dan juga ikan , mendoakan kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia (ulama).
Ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan usaha untuk mengorganisasikan yang berasal dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehai-hari. Namun, dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode.
Ilmu dapat merupakan suatu metode berfikir secara objektif, tujuannya untuk menggambarkan dan member makna terhadap dunia faktual. Analisis ilmu itu objektif dan menyampingkan unsur pribadi , pemikiran logika diutamakan , netral dalam arti tidak dipengaruhi oleh sesuatu yang bersifat kedirian, karena dimulai dengan fakta. Ilmu merupakan lukisan dan keterangan yang lengkap dan konsisten mengenai hal-hal yang dipelajarinya dalam ruang dan waktu yang jauh dan dapat diamati panca indera manusia.
Dari sejumlah pengertian yang ada , sering ditemukan kerancuan antar pengertian pengetahuan dan ilmu. Kedua kata tersebut memiliki arti yang sama. Dalam kamus besar bahasa Indonesia ilmu disamakan artinya dengan pengetahuan. Dari asal katanya bahwa pengetahuan diambil dari kata bahasa inggris yaitu knowledge , sedangkan ilmu diambil dari kata science dan peralihan dari kata arab ilm. Menjelaskan keutamaan-keutamaan orang yang berilmu , Al-Gazali mengatakan “barang siapa berilmu , membimbing manusia dan memanfaatkan ilmunya bagi orang lain, bagaikan matahari, selain menerangi dirinya juga menerangi orang lain. Dia bagaikan minyak kesturi yang harum dan menyebarkan keharumannya kepada orang yang berpapasan dengannya.
Dan menurut al-Gazali mengatakan juga “seluruh manusia akan binasa, kecuali orang yang berilmu. Orang-orang berilmu pun akan celaka jika tidak mengamalkan ilmunya. Dan orang yang mengamalkan ilmunya pun akan binasa kecuali orang-orang yang ikhlas”       
| 9
BAB IV
1.4  D. Tanggung Jawab Ilmuan terhadap Alam Lingkungan
Kemajuan IPTEK tidak dipungkiri telah mengantar manusia kepada kemudahan, efektivitas Sdan efisiensi hidup. Dengan IPTEK manusia telah mampu meraih apa yang dulu dianggap sebagai suatu yang mustahil.
Namun disisi lain kemajuan IPTEK juga telah membawa akses yang negative dan destruktif yang merugikan dan mengancam kelangsungan hidup umat manusia dan lingkungannya. Dalam (QS. Ar-Rum:45) menyebutkan “telah timbul kerusakan di darat di lautan karena ulah tangan manusia”.
        Untuk itu ilmuan memiliki tanggung jawab untuk menjaga kelestarian alam dari kelompok-kelompok perusak (ya’juj dan ma’juj). Ilmuan harus mempunyai tanggung jawab karena diberi amanahAllah untuk berbuat baik terhadap lingkungan
            Ada dua fungsi manusia didunia yaitu sebagai ‘abdun (hamba allah)dan sebagai khalifah allah di bumi. Tugas utama seorang abdun adalah mengaktualisasikan ketaatan, ketundukan dan kepatuhan kepada kebenaran dan keadilan allah. Adapun tugas utamanya sebagai khalifah allah di muka bumi adalah memakmurkan dunia ini sekaligus menjaga keseimbangan alam dan lingkungan tempat mereka tinggal. Manusia diberi kebebasan untuk mengeksplorasi , menggali sumber daya alam , serta memanfaatkannya dengan sebesar-beesar kemanfaatanuntuk kehidupan umat manusia dengan tidak menimbulkan dampak negatif lingkungan , karena alam diciptakan untuk kehidupan manusia sendiri.
Untuk menggali potensi alam dan memanfaatkannya diperlukan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memadai. Tanpa menguasai IPTEKS , fungsi hidup manusia sebagai khalifah akan menjadi kurang dan kehidupan yang lebih baik tidak akan terwujud dan kehidupan manusia akan tetap terbelakang. Allah menciptakan alam karena allah menciptakan manusia. Seandainya allah tidak menciptakan manusia. Maka tidak perlu menciptakan alam. Oleh karena itu maka manusia mendapat amanah dari allah untuk memelihara alam agar terjaga kelestariannya dan keseimbangannya untuk kepentingan umat manusia itu sendiri.       


 | 10
AL QUR’AN DAN ILMU PENGETAHUAN
A. Penafsiran ilmiah Al Qur an
Al-Qur an AL-Karim, yang merupakan sumber utama ajaran Islam, berfungsi sebagai “petunjuk kejalan yang sebaik-baiknya” ( QS 17:9) demi kebahagiaan manusia di dunia dan di akherat. Petunjuk-petunjuk tersebut banyak yang bersifat umum dan global.
Di samping itu, Al Qur an juga memerintahkan umat manusia untuk memperhatikan ayat-ayat Al Qur an (QS 39:18 ; 47:24), dengan perhatian yang, di samping dapat mengantar mereka kepada keyakinan dan kebenaran ilahi, juga untuk menemukan alternative-alternatif baru melalui pengintegrasian yata-ayat tersebut dengan perkembengan situasi masyarakat tanpa mengorbankan prinsi-prinsip pokok ajarannya (Al Ushul Al ‘Ammah) atau mengabaikan perincian-perincian yang tidak termasuk dalam wewenang ijtihad. Dengan demikian, akan ditemukan kebenaran-kebenaran penegasan Al Qur an, bahwa :
  1. Allah akan memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-NYA di seluruh ufuk dan pada diri manusia, sehingga terbukti bahwa Al Qur an adalah benar.
  2. Fungsi di turunkannya kitab suci kepada para Nabi (tentunya terutama Al Qur an), adalah Untuk memberikan jawaban atau jalan keluar bagi perselisihan dan problem-problem yang dihadapi masyarakat.                                                                                                                    






 | 11
Perkembangan penafsiran Al Qur an.
Dalam rangka pembuktian Al Qur an, wahyu ilahi ini telah mengajukan tantangan kepada siapa pun yang meragukannya untuk menyusun kembali “semisal” Al Qur’an.
Arti semisal mencakup segala macam aspek yang terdapat dalam Al Qur’an, salah satu di antaranya adalah kandungannya yang antara lain berhubungan dengan ilmu pengetahuan yang belum dikenal pada masa turunnya.
Dari sini tidaklah mengherankan jika sementara pihak dari kaum muslim berusaha untuk membuktikan kemukjizatan al Qur’an, atau kebenaran-kebenarannya sebagai wahyu ilahi melalui penafsiran, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, walaupun tidak jarang dirasakan adanya “pemaksaan-pemaksaan”dalam penafsiran tersebut yang antara lain diakibatkan oleh keinginan untuk membuktikan kebenaran ilmiah melalui Al Qur’an, dan bukan sebaliknya.
Corak penafsiran ilmiah ini telah lama di kenal. Benihnya bermula pada masa dinasti abbasiyah, khususnya pada masa pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun (w. 1059-1111M) yang secara panjang lebar dalam kitabnya ihya’ ‘ulum Al-Din dan jawahir Al qur’an mengemukakan alasan-alasan yang membuktika pendapatnya itu. Al Ghazali mengatakan bahwa : “Segala macam ilmu pengetahuan, baik yang terdahulu (masih ada atau telah punah), maupun yang kemudian ; baik yang telah diketahui maupun belum, semua bersumber dari Al Qur’an Al Karim.
Hal ini, menurut Al Ghazali, karena segala macam ilmu termasuk dalam af’al (perbuatan-perbuatan) Allah dan sifat-sifat NYA. Sedangkan Al Qur’an menjelaskan tentang zat, af’al dan sifat-NYA. Pengetahuan tersebut tidak terbatas. Dalam Al Qur’an terdapat isyarat-isyarat menyangkut prinsip-prinsip pokoknya. Hal terakhir ini, antara lain, dibuktikan dengan mengemukakan ayat, “Apabila aku sakit maka Dia-lah yang mengobatiku” (QS 26:80).
“Obat” dan “penyakit”, menurut Al Ghazali, tidak dapat diketahui kecuali oleh orang yang berkecimpung di bidang kedokteran. Dengan demikian, ayat di atas merupakan isyarat tentang ilmu kedokteran.
 | 12
Korelasi antara Al Qur’an dan Ilmu Pengetahuan
Membahas hubungan antara Al Qur’an dan ilmu pengetahuan bukan dinilai dari banyak atau tidaknya cabang-cabang ilmu pengetahuan yang dikandungnya, tetapi yang lebih utama adalah melihat : adakah Al qur’an atau jiwa ayat-ayatnya menghalangi ilmu pengetahuan atau mendorongnya, karena kemajuan ilmu pengetahuan tidak hanya diukur melalui sumbangan yang di berikan kepada masyarakat atau kumpulan ide dan metode yang dikembangkannya, tetapi juga pada sekumpulan syarat-syarat psikologis dan social yang diwujudkan, sehingga mempunyai pengaruh (positif atau negative) terhadap kemajuan ilmu pengetahuan.
Sejarah membuktikan bahwa Galileo ketika mengungkapkan penemuan ilmiahnya tidak mendapat tantangan dari satu lembaga ilmiah, kecuali dari masyarakat dimana ia hidup. Mereka memberikan tantangan kepadanya atas dasar kepercayaan agama. Akibatnya, Galileo pada akhirnya menjadi korban penemuannya sendiri.
Dalam Al qur’an ditemukan kata-kata “ilmu” dalam berbagai bentuknya yang terulang sebanyak 854 kali. Disamping itu, banyak pula ayat-ayat Al qur’an yang menganjurkan untuk menggunakan akal pikiran, penalaran, dan sebagainya, sebagaimana dikemukakan oleh ayat-ayat yang menjelaskan hambatan kemajuan ilmu pengetahuan, antara lain :
1. Subjektivitas (a) suka dan tidak suka (baca antara lain, QS 43:78 ; 7:79); (b) taqlid atau mengikuti tanpa alasan (baca antara lain, QS 33:67 ; 2:170).
2. Angan-angan dan dugaan yang tak beralasan (baca antara lain, QS 10:36).                                                          
3. Bergegas-gegas dalam mengambil keputusan atau kesimpulan (baca antara lain QS 21:37).
4. Sikap angkuh (enggan untuk mencari atau menerima kebenaran) (baca antara lain QS 7:146).


 | 13
Di samping itu, terdapat tuntutan tuntutan antara lain :
1. Jangan bersikap terhadap sesuatu tanpa dasar pengetahuan (QS 17:36), dalam arti tidak menetapkan sesuatu kecuali benar-benar telah mengetahui dulu persoalan (baca antara lain QS 36:17), atau menolaknya sebelum ada pengetahuan (baca antara lain, QS 10:39).
2. Jangan menilai sesuatu karena factor ekstern apa pun walaupun dalam dalam pribadi tokoh yang paling diagungkan.
Ayat- ayat semacam inilah yang mewujudkan iklim ilmu pengetahuan dan yang telah melahirkan pemikir-pemikir dan ilmuwan-ilmuwan Islam dalam berbagai disiplin ilmu. “tiada yang lebih baik dituntun dari suatu kitab akidah (agama) menyangkut bidang ilmu kecuali anjuran untuk berpikir, serta tidak menetapkan suatu ketetapan yang menghalangi umatnya untuk menggunakan akalnya atau membatasinya menambah pengetahuan selama dan dimana saja ia kehendaki. Inilah korelasi pertama dan utama antara Al qur’an dan ilmu pengetahuan.
Korelasi kedua dapat ditemukan pada isyarat-isyarat ilmiah yang tersebar dalam sekian banyak ayat Al qur’an yang berbicara tentang alam raya dan fenomenanya. Isyarat-isyarat tersebut sebagian nya telah diketahui oleh masyarakat arab ketika itu. Namun apa yang mereka ketahui itu masih sangat terbatas dalam perinciannya.
Dalam dalam penafsiran ilmiah terhadap ayat-ayat Al qur’an, membawa kita kepada, paling tidak, tiga hal pula hal yang perlu di garisbawahi, yaitu (1) Bahasa (2) konteks ayat-ayat ; dan (3) sifat penemuan ilmiah.




| 14
1. Bahasa
Disepakati oleh semua pihak bahwa untuk memahami kandungan Al qur’an dibutuhkan pengetahuan bahasa arab. Untuk memahami arti suatu kata dalam rangkaian redaksi suatu ayat, seorang terlebih dahulu harus meneliti apa saja pengertian yang dikandung oleh kata tersebut. Kemudian menetapkan arti yang paling tepat setelah memperhatikan segala aspek yang berhubngan ayat tadi.
2. Konteks antara kata atau ayat
Memahami pengertian suatu kata dalam sdalam rangkaian satu ayat tidak dapat dilepaskan dari konteks kata tersebut dengan keseluruhan kata dalam redaksi ayat tadi.
3. Sifat penemuan ilmiah
Seperti telah dikemukakan di atas bahwa hasil pemikiran seseorang dipengaruhi oleh banyak factor, antara lain, perkembangan ilmu pengetahuan dan pengalaman-pengalamannya. Perkembangan ilmu pengetahuan sudah sedemikian pesatnya, sehingga dari faktor ini saja pemahaman terhadap redaksi Al qur’an dapat berbeda-beda.
Seperti yang telah dikemukakan bahwa salah satu pembuktian tentang kebenaran
Al qur’an adalah ilmu pengetahuan dari berbagai disiplin yang diisyaratkan. Memeng terbukti, bawa sekian banyak ayat-ayat Al qur’an yang berbicara tentang hakikat ilmiah yang tidak dikenal pada masa turunnya, namu terbukti kebenarannya di tengah-tengah perkembangan ilmu, seperti :




 | 15

  • Teori tentang expanding universe (kosmos yang mengembang) (QS 51:47 ).
  • Matahari adalah planet yang bercahaya sedangkan bulan adalah pantulan dari cahaya matahari (QS 10:5).
  • Pergerakan bumi mengelilingi matahari, gerakan lapisa-lapisan yang berasal dari perut bumi, serta bergeraknya gunung sama dengan pergerakan awan (QS 27:88).
  • Zat hijau daun (klorofil) yang berperanan dalam mengubah tenaga radiasi matahari menjadi tenaga kimia melalui proses foto sintesis sehingga menghasilkan energy (QS 36:80).bahkan,
 istilah Al qur’an, al syajar al akhdhar (pohon yang hijau) justru lebih
tepat dari istilah klorofil (hijau daun), karena zat-zat tersebut bukan hanya terdapat dalam daun saja tapi di semua bagian pohon, dahan dan ranting yang warnanya hijau.
  • Bahwa manusia diciptakan dari sebagian kecil sperma pria dan yang setelah fertilisasi (pembuahan) berdempet di dinding rahim (QS 86:6 dan 7; 96:2).
Contohnya juga, para ulam menafsirkan arti kata al ‘alaq dalam ayat-ayat yang menerangkan proses kejadian janin dengan al-dam al-jamid atau segumpal darah yang beku. Dan dapat disimpulkan bahwa proses kejadian manusia terdiri atas lima periode : (1) Al-Nuthfah; (2) Al ‘Alaq; (3) AL-Mudhghah; (4) Al-Idzam; dan (5) Al-Lahm.
Apabila seseorang mempelajari embriologi dan percaya akan kebenaran Al qur’an, maka dia sulit menafsirkan al-‘alaq tersebut dengan segumpal darah yang beku. Menurut embriologi,  proses kejadian manusia terbagi dalam tiga periode :
      1) Periode Ovum
2) Periode Embrio
3) Periode foetus
Demikian seterusnya, sehingga amat tepatlah kesimpulan yang dikemukakan oleh Dr. Maurice Bucaille dalam bukunya Al-Qur’an, Bible dan sains Modern, bahwa tidak satu ayat pun dalam Al qur’an yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan.
 | 16



BAB V

PENUTUP

          Kesimpulan


Manusia adalah satu-satunya makhluk yang Allah karuniakan akal sebagai alat untuk berfikir. Dengan akal manusia mampu menyerap ilmu pengetahuan dan menciptakan teknologi, serta manghasilkan karya seni, sehingga dapat menciptakan peradaban di muka bumi. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia melalui tangkapan pancaindra intuisi dan firasat. Jadi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta Seni dalam islam sangat mempengaruhi bagi kemajuan agama islam.
Untuk itu setiap muslim harus bisa memanfaatkan alam yang ada untuk perkembangan iptek dan seni, tetapi harus tetap menjaga dan tidak merusak yang ada. Yaitu dengan cara mencari ilmu dan mengamalkanya dan tetap berpegang teguh pada syari’at Islam.













| 17


Daftar pustaka

Mansoer,Hamdan,dkk.2004.ilmu pengetahuan teknologi dan seni dalam islam.Jakarta:Departemen agama RI.
Aminuddin,dkk.2005.islam pengetahuan dan teknologi .Bandung:PT Ghalia Indonesia.
Imtihana,Aida,dkk.2009.pendidikan agama islam untuk perguruan tinggi umum.Palembang:Universitas Sriwijaya.
Faridi. 2002. Agama Jalan Kedamaian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Bakhtiar,Amsal.2010.filsafat ilmu.Jakarta:PT Raja Grafindo Persada.
Kumpulan Materi Responsi Al-Quran Kampus STMIK MJ Bekasi