Kapan lagi belajar Al-Quran.kalau nggak di mulai dari sekarang...?
Al-QURAN DAN RESPON KEMAJUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
MAKALAH INI DI SUSUN DALAM RANGKA MEMENUHI TUGAS
MATA KULIAH RESPONSI AL-QURAN
DI SUSUN OLEH : SUMANTO
NIM : 14.30074
DOSEN PENGAMPU : HUDORI S.Ag
JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA
SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER MUHAMMADIYAH
JAKARTA 2016
Al-QURAN DAN RESPON KEMAJUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
MAKALAH INI DI SUSUN DALAM RANGKA MEMENUHI TUGAS
MATA KULIAH RESPONSI AL-QURAN
DI SUSUN OLEH : SUMANTO
NIM : 14.30074
DOSEN
PENGAMPU : HUDORI S.Ag
JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA
SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER
MUHAMMADIYAH
JAKARTA 2016
Stmik-mjbekasi | i
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan
kehadirat Tuhan YME atas limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis,
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar. Penulisan
makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh dosen
pengampu matakuliah Responsi Al-Quran. Hudori S.Ag .Makalah ini ditulis dari hasil penyusunan data-data sekunder
yang penulis peroleh dari buku panduan yang berkaitan dengan Responsi Al-Quran
serta infomasi dari media massa yang berhubungan dengan Responsi Al-Quran, tak
lupa penyusun ucapkan terima kasih kepada pengajar matakuliah Responsi Al-Quran
atas bimbingan dan arahan dalam penulisan makalah ini. Juga kepada rekan-rekan
mahasiswa yang telah mendukung sehingga dapat diselesaikannya makalah ini Penulis
harap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua, dalam
hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai Responsi Al-Quran , khususnya bagi
penulis. Memang makalah ini masih jauh dari sempurna, maka penulis mengharapkan
kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik.
Sebagai agama yang universal Islam tidak hanya menitikberatkan pada
persoalan ukhrawi saja seperti ibadah,
aqidah dan tauhid. Pada kenyataannya, Islam juga sangat memerhatikan Ilmu
Pengetahuan, Teknologi dan Seni (IPTEKS) dalam kehidupan umat manusia. Itulah
sebabnya dalam al-quran tidak hanya mengatur tentang ubudiyah saja tetapi juga
banyak memuat ayat-ayat yang berkenaan dengan IPTEK dan seni. Hal itu karena
disamping ditentukan oleh nilai-nilai peribadatannya kepada Allah, martabat
manusia juga ditentukan oleh kemampuannya mengembangkan IPTEK dan seni, untuk
kemanfaatan hidupnya. Hal itu karena disamping ditentukan oleh nilai-nilai
peribadatannya kepada Allah, martabat manusia juga ditentukan oleh kemampuannya
mengembangkan IPTEK dan seni, untuk kemanfaatan hidupnya. Dengan IPTEK alam dan
isinya yang telah dianugrahkan Allah kepada manusia dapat dieksplorasi dan
dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan manusia. Sedangkan dengan seni
manusia bias menjaga keasrian alam, agar selalu tetap dalama fitrahnya sebagai
alam dan mencegah ketidak seimbangan yang mungkin terjadi sebagai akibat dari
kemajuan IPTEK. Untuk itulah Islam tidak memisahkan antara ilmu pengetahuan,
teknologi dan seni dengan masalah peribadatan lainnya.
Akhirnya mohon maaf atas kurang dan
lebihnya kami ucapkan terimakasih.
Bekasi Kamis 28
Januari 2016
Penyusun
Sumanto
| ii
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
BAB I
PENDAHULUAN............................................................................................... 1
Latar Belakang
....................................................................................................
2
1.1 Rumusan Masalah
........................................................................................ 3
1.2 Tujuan Penulisan
..........................................................................................
3
BAB II
PEMBAHASAN
1.1 A Pengertian
ilmu pengetahuan , teknologi dan seni dalam islam .............
4
1.2 B Iman, ilmu dan amal sebagai kesatuan ................................................... 6
BAB III
1.3 C Keutamaan orang beriman dan
berilmu ...................................................... 8
BAB IV
1.4 D Tanggung jawab ilmuan terhadap
alam lingkungannya ............................... 10
AL-QURAN Dan Ilmu Pengetahuan ............................................................. 11
Korekasi Antara Al-Quran Dan Ilmu
Pengetahuan ........................................ 13
BAB V
PENUTUP
.............................................................................................................
13
KESIMPULAN
....................................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA
.............................................................................................. 18
| iii
BAB I
PENDAHULUAN
Dengan
nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang,Yang telah mengutus Nabi
Muhammad Saw.untuk menyampaikan Agama yang hak,memberi petunjuk kepada segenap manusia ke jalan kebaikan,untuk kehidupan di dunia,dan keselamatan di
Akhirat.
Pendidikan Agama Islam adalah usaha
untuk memperkuat iman dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan
ajaran Islam, bersikap inklusif, rasional dan filosofis dalam rangka
menghormati orang lain dalam hubungan kerukunan dan kerjasama antar umat
beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional (UU No. 2 Tahun
1989).
Menutut ajaran islam kemiskinan dan
kefakiran cepat mengakibatkan manusia terjerumus ke dalam kekufuran dan
keingkaran kepada Allah SWT Bahkan dapat mengurangi bekal hidup di Akhirat
nanti.Oleh karena itu Agama Islam (dinul
Islam) menunjukan kenyataan tersebut dan mendorong manusia untuk berani
menghadapi kenyataan melalui perjuangan dan kerja keras serta usaha yang terus
menerus tanpa mengenal putus asa .
Prinsip ajaran Islam lainya adalah
bahwa seseorang akan memperoleh bagian dari apa yang telah di usahakanya sesuai
dengan kemampuan dan kadar usahanya sendiri.Islam tidak menjanjikan balasan
berupa pahala dan datangnya pertolongan Alloh SWT tanpa melalui usaha dan jerih
payah manusia itu sendiri.Melalui prinsip ini maka nampaklah bahwa Islam
mendorong manusia untuk hidup dinamis,Tidak menyerah kepada nasib dan keadaan
lingkungan yang di hadapinya.
Di balik ajaranya yang penuh dengan
pedagogis,Islam telah meletakan suatu kekuatan essensial bagi hidup manusia itu
sendiri berupa keimanan yang bersumber pada”Tauhid”Prinsip ajaran tentang
tauhid ini mengandung pengertian yang mendidik manusia untuk mengimani adanya
suatu kekuatan mutlak yaitu Alloh SWT,Tuhan Yang Maha Esa yang mutlak
kekuasaaNya tidak terbagi-bagi kepada siapapun dan oleh siapapun dalam alam
jagad raya ini.Keimanan atau keyakinan tentang tauhid itulah yang dapat
memancarkan ssikap dan tingkah laku manusia berpribadi muslim yang penuh dengan
integritas,loyalitas
tunggal,idealitas,sosialitas,dan moralitas yang tinggi.
| 1
LATAR BELAKANG MASALAH
Di zaman modern pada saat ini ilmu pengetahuan sangat
dibutuhkan dalam kemajuan suatu bangsa, serta ilmu tersebut akan
berpengaruh terhadap taraf ekonomi, social, dan intelktual seseorang. Dari
tahun ketahun IPTEK sudah berkembang dengan pesat. Bahkan untuk oknum-oknum
tertentu IPTEK merupakan suatu kebutuhan primer.
Islam sangat memperhatikan pentingnya ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni dalam kehidupan umat manusia. Martabat manusia
disamping ditentukan oleh peribadahannya kepada Allah, juga ditentukan oleh
kemampuan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Bahkan di dalam
Al-Qur’an sendiri Allah menyatakan bahwa hanya orang yang berilmulah yang
benar-benar takut kepada allah
Dialog antara Allah dengan malaikat
ketika Allah mau menciptakan manusia dan malaikat mengatakan bahwa manusia akan
berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, Allah membuktikan keunggulan manusia
daripada malaikat dengan kemampuan manusia menguasai ilmu melalui kemampuan
menyebutkan nama-nama. IPTEK dan seni dalam praktek mampu mengangkat harkat dan
martabat manusia karena melalui IPTEK dan seni manusia mampu melakukan
eksplorasi kekayaan alam yang disediakan oleh Allah. Karena itu dalam
pengembangan ilmu IPTEK dan seni, nilai-nilai Islam tidak boleh diabaikan agar
hasil yang diperoleh memberikan kemanfaatan sesuai dengan fitrah hidup manusia.
| 2
RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana konsep IPTEKS seni dalam
islam ?
2. Bagaimana korelasi antara iman ,
ilmu dan amal di dalam kehidupan ?
3. Bagaimana menjelaskan keutamaan
orang beriman ?
4. Bagaimana komitmen islam dalam ilmu
pengetahuan ?
TUJUAN
Tujuan dari makalah ini
adalah agar mampu :
1. Mengetahui
dan menjelaskan tentang konsep IPTEK dalam islam.
2. Mengetahui
apa saja yang menjadi sumber ilmu pengetahuan dalam islam.
3. Menjelaskan
korelasi antara iman, ilmu dan amal di dalam kehidupan.
4. Menjelaskan
keutamaan orang yang berilmu.
5. Mengetahui
komitmen islam terhadap lmu pengetahuan.
6. Mengetahui
modernisasi pendidikan dalam islam.
7. Mengetahui
komitmen islam terhadap ilmu pengetahuan.
| 3
BAB II
PEMBAHASAN
ILMU PENGETAHUAN , TEKNOLOGI DAN
SENI DALAM ISLAM
1.1
A.Konsep Ilmu Pengetahuan , Teknologi dan Seni dalam Islam
Pengetahuan dapat di artikan sebagai hasil tahu
manusia terhadap sesuatu objek yang dihadapi, hasil usaha manusia untuk
memahami suatu objek tertentu. Maka , pengetahuan adalah segala fenomena alam
yang dapat dicapai oleh indra manusia . Konsekwensi logis dari pengetahuan akan
melahirkan berbagai pengalaman manusia , akan tetapi pengalaman manusia ini
terkadang kebenarannya tidak mutlak dan perlu diuji lagi.
Kata sains disadur dalam bahasa Indonesia menjadi ilmu pengetahuan , sedangkan dalam
sudut pandang filsafat ilmu, pengetahuan dengan ilmu sangat berbeda maknanya.
Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia melalui tanggapan
panca indera dan instuisi, sedangkan ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang
telah diinterpretasi , diorganisasi dan disistematisasi sehingga menghasilkan
kebenaran obyektif , sudah diuji
kebenarannya dan dapat diuji ulang secara alamiah. Secara etimologis kata ilmu
berarti kejelasan , karena segala yang terbentuk dari akar katanya mempunyai
cirri kejelasan (M. Daud Ali, 1998:69)
Istilah teknologi merupakan produk ilmu pengetahuan.
Dalam sudut pandang budaya , teknologi merupakan salah satu unsur budaya sebagai hasil penerapan praktis dari
ilmu pengetahuan. Meskipun pada dasarnya teknologi juga memiliki karakteristik
obyektif dan netral. Dalam situasi tertentu teknologi tidak netral lagi karena
memiliki potensi untuk merusak dan potensi kekuasaan. Disinilah letak perbedaan
ilmu pengetahuan dengan teknologi.
Teknologi dapat membawa dampak positif berupa kemajuan
dan kesejahteraan bagi manusia juga sebaliknya dapat membawa dampak negative
berupa ketimpangan-ketimpangan dalam kehidupan manusia dan lingkungannya yang
berakibat kehancuran alam semesta. Netralitas teknologi dapat digunakan untuk
kemanfaatan sebesar-besarnya bagi kehidupan manusia dan atau digunakan untuk kehancuran manusia itu
sendiri. Oleh sebab itu kebenaran ipteks sangat relatif. Sumber ipteks dalam
islam adalah wahyu allah. Ipteks yang islami selalu mengutamakan kepentingan
orang banyak dan kemaslahatan bagi kehidupan manusia. Untuk
| 4
itu ipteks dalam pandangan islam tidak bebas nilai.
Integrasi ipteks dengan agama
merupakan suatu keniscayaan untuk menghindari
terjadinya proses sekularisasi yaitu pemisah antara doktrin-doktrin agama
dengan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (Hamda
Mansoer,2004:93)
Tujuh factor yang menjadi pendorong
bagi kemajuan IPTEK di dunia islam pada abad yang lalu, antara lain:
1. kesatuan agama dan budaya agama islam
2. arabisasi dan peranan bahasa arab
3. akademi, sekolah, observasi, dan perpustakaa
4. kebijakan Negara tentang pengembangan IPTEK
5. Perlindungan Negara sangat jelas terhadap para ilmuan dan para insinyur
6. Penelitian, eksperimen dan penemuan baru
7. Perdagangan internasional
Seni adalah
hasil ungkapan akal dan budi manusia dengan segala prosesnya. Seni merupakan
ekspresi jiwa seseorang. Hasil ekspresi jiwa tersebut berkembang menjadi bagian
dari budaya manusia. Seni identik dengan keindahan. Keindahan yang hakiki
identik dengan kebenaran. Keduanya memiliki nilai yang sama yaitu keabadian.
Seni yang lepas dari ketuhanan tidak akan abadi karena ukurannya adalah hawa
nafsu bukan akal dan budi. Seni mempunyai daya tarik yang selalu bertambah bagi
orang-orang yang kematangan jiwanya terus bertambah.
Menurut Ernst Diez dalam Muhammad abdul jabbar (1998:2)
cirri ciri seni islam atau seni islam adalah seni yang mengungkapkan sikap
pengabdian kepada allah SWT
Syarat-syarat ilmu.
Suatu pengetahuan dapat dikategorikan sebagai ilmu
apabila memenuhi tiga unsur pokok sebagai berikut:
1.
Ontologi artinya
bidang studi yang bersangkutan memiliki obyek studi yang jelas. Obyek studi
sebuah ilmu ada dua yaitu obyek material
dan obyek formal.
2.
Epistimologi artinya
bidang studi yang bersangkutan memiliki metode kerja yag jelas. Ada tiga metode
kerja suatu bidang studi yaitu metode deduksi, induksi dan edukasi.
| 5
3.
Aksiologi artinya
bidang studi yang bersangkutan memiliki nilai guna atau kemanfaatannya.
Bidang studi tersebut dapat menunjukkan nilai-nilai
teoritis,hukum—hukum, generalisasi, kecenderungan
umum, konsep-konsep, dan kesimpulan-kesimpulan logis, sistematis dan koheren.
1.2 B. Iman ,
ilmu dan Amal Sebagai Kesatuan
Islam merupakan ajaran agama yang
landasan pengembangannya adalah iman. Iman adalah kepercayaan terhadap wujud
zat yang maha mutlak yang menjadi tujuan hidup manusia. Iman merupakan fundamen
dalam sistem ajaran islam. Iman merupakan potensi dasar yang harus di kembangkan dan pengembangannya adalah dalam bentuk amal.
Iman tanpa amal sama saja potensi yang tak dikembangkan.
Di dalam pengetahuan teknologi , dan
seni terdapat hubungan yang harmonis dan dinamis yang terintegrasi ke dalam
suatu sistem yang disebut dinul islam, yang terkandung tiga unsure pokok yaitu
akidah, syari’ah dan akhlak. Dengan kata lain ilmu , dan amal sholeh.
Ada tiga inti ajaran islam yaitu
iman , islam , dan ikhsan. Ketiga inti ajaran itu terintegrasi didalam sebuah
sistem ajaran yang disebut dinul islam
Dalam QS 14 (ibrahim) :24-25 yang artinya :
“tidaklah kamu perhatikan bagaimana allah telah membuat perumpamaan kalimat
yang baik (dinul islam)seperti sebatang pohon yang baik, akarnya kokoh
(menghujam kebumi)dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu mengeluarkan
buahnya setiap musim dengan seizing tuhannya,. Allah membuat
perumpamaan-perumpamaan itu untuk
manusia agar mereka selalu ingat”.
Ayat diatas
menggambarkan keutuhan antara iman , ilmu dan amal atau aqidah. Syari’ah dan
akhlak dengan menganalogikan bangunan dinul
islam bagaikan sebatang pohon yang baik. Akarnya menghujam ke bumi ,
bbatangnya menjulang tinggi ke langit , cabangnya atau dahannya rindang, dan
buahnya amat lebat.
Islam melihat bahwa IPTEKS dan agama
adalah sesuatu yang memiliki kaitan. Sains tidak dapat dipisahkan dari
nilai-nilai keagamaan. Agama menjadi landasan segala prilaku manusia termasuk
didalam sains dan teknologi . islam melihat sains sebagai suatu perkara yang
amat penting karena dengan sains dan teknologi manusia dapat :
| 6
1.
Mengenal
tuhannya
2.
Menegakkan
hakikat kebenaran
3.
Membawa
manusia kepada sikap tafakkur dan berfikir
4.
Membantu
manusia memenuhi keperluan material untuk kehidupannya
5.
Membantu
manusia dalam melaksanakan syariat
6.
Menjaga
keseimbangan dan keharmonisan alam
Perbuatan
baik seseorang tidak akan bernilai amal shaleh apabila perbuatan tersebut tidak
di bangun di atas landasan iman dan takwa. Sama halnya pengembangan ipteks yang
lepas dari keimanan dan ketakwaan , tidak akan bernilai ibadah serta tidak akan
menghasilkan kemaslahatan bagi umat manusia dan alam lingkungannya. Apabila
IPTEKS tidak dikembangkan di atas dasar iman , maka yang akan timbul adalah
kerusakan dan kehancuran bagi kehidupan umat manusia.
Beriman kepada Allah adalah kebutuhan yang sangat
mendasar bagi seseorang. Allah memerintahkan agar ummat manusia beriman
kepada-Nya, sebagaimana firman Allah yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman. Tetaplah beriman
kepada Allah dan RasulNya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al Qur’an) yang
diturunkan kepada RasulNya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa
ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasulNya,
dan hari kemudian, maka sungguh orang itu telah tersesat sangat jauh.” (Q.S. An
Nisa : 136)
Ayat di atas memberikan penjelasan bahwa Bila kita
ingkar kepada Allah, maka akan mengalami kesesatan yang nyata. Orang yang sesat
tidak akan merasakan kebahagiaan dalam hidup. Oleh karena itu, beriman kepada
Allah sesungguhnya adalah untuk kebaikan manusia.
| 7
BAB III
1.3
C. Keutamaan Orang Beriman dan Berilmu
Perbuatan
baik seseorang tidak akan bernilai amal shaleh apabila perbuatan tersebut tidak
di bangun diatas nilai-nilai iman dan ilmu yang benar. Sama halnya pengembangan
ipteks yang lepas dari keimanan dan ketakwaan tidak akan bernilai ibadah serta
tidak akan menghasilkan kemaslahatan bagi umat manusia dan dan alam
lingkungannya bahkan akan menjadi malapetaka bagi kehidupannya sendiri.
Manusia sebagai makhluk ciptaan
tuhan yang paling sempurna. Kesempurnaannya karena dibekali seperangkat
potensi. Potensi yang paling utama adalah akal. Akal berfungsi untuk berfikir
hasil pemikirannya adalah ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
Ilmu yang dikembangkan atas dasar
keimanan dan ketakwaan kepada allah Swt, akan memberikan jaminan kemaslahatan
bagi kehidupan umat manusia termasuk bagi lingkungannya. Allah berjanji dalam
QS 58(al-Mujadalah) :11 yang artinya “allah
akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang
diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”
Disamping itu Rasullulah SAW banyak memberikan
perumpamaan tentang keutamaan orang yang berilmu dengan sabdanya : “carilah
ilmu walaupun di negeri china, mencari ilmu itu wajib bagi kaum muslim
laki-laki dan perempuan sejak dari ayunan sampai ke liang lahat”.
Berikut ini adalah beberapa ayat al-Qur’an dan hadist
yang dapat dijadikan sebagai dalil orang yang beriman dan berilmu memiliki
keutamaan dan derajat yang istimewa.
1. Surat
az-Zumar ayat : 9 yang artinya “katakanlah
: “adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui?”
2. Surat father
ayat : 28 yang artinya : “sesungguhnya
yang takut kepada allah diantara hamba-hambNya adalah ulama.
| 8
3. Hadits
riwayat bukhori yang artinya : “barang
siapa melalui sesuata jalan untuk mencari ilmu, maka allah memudahkan jalan
baginya kesurga.
4. Hadist
riwayat tirmidzi (sunan tirmidzi juz 4) yang artinya : “dunia dilaknat, dilaknat apa yang ada di dalamnya kecuali zikir
kepada allah Taa’ala dan orang alim (berilmu)atau penuntut ilmu”
5. Hadits
riwayat tirmidzi yang artinya :”keutamaan
orang pandai terhadap orang yang beribadah adalah sebagai mana keutamaanku atas
orang yang paling rendah diantara kalian.”dilanjutkan :”sesungguhnya allah ,
malaikatNya, penghuni langit dan bumi sampai semut didalam lubangnya dan juga
ikan , mendoakan kepada orang yang mengajarkan
kebaikan kepada manusia (ulama).
Ilmu pada
prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan
usaha untuk mengorganisasikan yang berasal dari pengalaman dan pengamatan dalam
kehidupan sehai-hari. Namun, dilanjutkan dengan
suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode.
Ilmu dapat
merupakan suatu metode berfikir secara objektif, tujuannya untuk menggambarkan
dan member makna terhadap dunia faktual. Analisis ilmu itu objektif dan
menyampingkan unsur pribadi , pemikiran logika diutamakan , netral dalam arti
tidak dipengaruhi oleh sesuatu yang bersifat kedirian, karena dimulai dengan
fakta. Ilmu merupakan lukisan dan keterangan yang lengkap dan konsisten
mengenai hal-hal yang dipelajarinya dalam ruang dan waktu yang jauh dan dapat
diamati panca indera manusia.
Dari
sejumlah pengertian yang ada , sering ditemukan kerancuan antar pengertian
pengetahuan dan ilmu. Kedua kata tersebut memiliki arti yang sama. Dalam kamus
besar bahasa Indonesia ilmu disamakan artinya dengan pengetahuan. Dari asal
katanya bahwa pengetahuan diambil dari kata bahasa inggris yaitu knowledge , sedangkan ilmu diambil dari
kata science dan peralihan dari kata
arab ilm. Menjelaskan
keutamaan-keutamaan orang yang berilmu , Al-Gazali mengatakan “barang siapa berilmu , membimbing manusia
dan memanfaatkan ilmunya bagi orang lain, bagaikan matahari, selain menerangi
dirinya juga menerangi orang lain. Dia bagaikan minyak kesturi yang harum dan
menyebarkan keharumannya kepada orang yang berpapasan dengannya.
Dan menurut
al-Gazali mengatakan juga “seluruh
manusia akan binasa, kecuali orang yang berilmu. Orang-orang berilmu pun akan
celaka jika tidak mengamalkan ilmunya. Dan orang yang mengamalkan ilmunya pun
akan binasa kecuali orang-orang yang ikhlas”
| 9
BAB IV
1.4
D. Tanggung Jawab Ilmuan terhadap Alam Lingkungan
Kemajuan IPTEK tidak dipungkiri
telah mengantar manusia kepada kemudahan, efektivitas Sdan efisiensi hidup.
Dengan IPTEK manusia telah mampu meraih apa yang dulu dianggap sebagai suatu
yang mustahil.
Namun disisi
lain kemajuan IPTEK juga telah membawa akses yang negative dan destruktif yang
merugikan dan mengancam kelangsungan hidup umat manusia dan lingkungannya.
Dalam (QS. Ar-Rum:45) menyebutkan “telah timbul kerusakan di darat di
lautan karena ulah tangan manusia”.
Untuk
itu ilmuan memiliki tanggung jawab untuk menjaga kelestarian alam dari
kelompok-kelompok perusak (ya’juj dan ma’juj). Ilmuan harus mempunyai tanggung
jawab karena diberi amanahAllah untuk berbuat baik terhadap lingkungan
Ada
dua fungsi manusia didunia yaitu sebagai ‘abdun (hamba allah)dan sebagai
khalifah allah di bumi. Tugas utama seorang abdun adalah mengaktualisasikan
ketaatan, ketundukan dan kepatuhan kepada kebenaran dan keadilan allah. Adapun
tugas utamanya sebagai khalifah allah di muka bumi adalah memakmurkan dunia ini
sekaligus menjaga keseimbangan alam dan lingkungan tempat mereka tinggal.
Manusia diberi kebebasan untuk mengeksplorasi , menggali sumber daya alam ,
serta memanfaatkannya dengan sebesar-beesar kemanfaatanuntuk kehidupan umat
manusia dengan tidak menimbulkan dampak negatif lingkungan , karena alam
diciptakan untuk kehidupan manusia sendiri.
Untuk menggali potensi alam dan memanfaatkannya diperlukan
ilmu pengetahuan dan teknologi yang memadai. Tanpa menguasai IPTEKS , fungsi
hidup manusia sebagai khalifah akan menjadi kurang dan kehidupan yang lebih
baik tidak akan terwujud dan kehidupan manusia akan tetap terbelakang. Allah
menciptakan alam karena allah menciptakan manusia. Seandainya allah tidak
menciptakan manusia. Maka tidak perlu menciptakan alam. Oleh karena itu maka
manusia mendapat amanah dari allah untuk memelihara alam agar terjaga
kelestariannya dan keseimbangannya untuk kepentingan umat manusia itu sendiri.
| 10
AL QUR’AN DAN ILMU PENGETAHUAN
A. Penafsiran ilmiah Al Qur an
Al-Qur an AL-Karim, yang merupakan sumber utama ajaran
Islam, berfungsi sebagai “petunjuk kejalan yang sebaik-baiknya” ( QS 17:9) demi
kebahagiaan manusia di dunia dan di akherat. Petunjuk-petunjuk tersebut banyak
yang bersifat umum dan global.
Di samping itu, Al Qur an juga memerintahkan umat
manusia untuk memperhatikan ayat-ayat Al Qur an (QS 39:18 ; 47:24), dengan
perhatian yang, di samping dapat mengantar mereka kepada keyakinan dan
kebenaran ilahi, juga untuk menemukan alternative-alternatif baru melalui
pengintegrasian yata-ayat tersebut dengan perkembengan situasi masyarakat tanpa
mengorbankan prinsi-prinsip pokok ajarannya (Al Ushul Al ‘Ammah) atau
mengabaikan perincian-perincian yang tidak termasuk dalam wewenang ijtihad.
Dengan demikian, akan ditemukan kebenaran-kebenaran penegasan Al Qur an, bahwa :
- Allah akan memperlihatkan tanda-tanda
kebesaran-NYA di seluruh ufuk dan pada diri manusia, sehingga terbukti
bahwa Al Qur an adalah benar.
- Fungsi di turunkannya kitab suci kepada para Nabi
(tentunya terutama Al Qur an), adalah Untuk memberikan jawaban atau jalan
keluar bagi perselisihan dan problem-problem yang dihadapi masyarakat.
| 11
Perkembangan penafsiran Al Qur an.
Dalam rangka pembuktian Al Qur an, wahyu ilahi ini
telah mengajukan tantangan kepada siapa pun yang meragukannya untuk menyusun
kembali “semisal” Al Qur’an.
Arti semisal mencakup segala macam aspek yang terdapat
dalam Al Qur’an, salah satu di antaranya adalah kandungannya yang antara lain
berhubungan dengan ilmu pengetahuan yang belum dikenal pada masa turunnya.
Dari sini tidaklah mengherankan jika sementara pihak
dari kaum muslim berusaha untuk membuktikan kemukjizatan al Qur’an, atau
kebenaran-kebenarannya sebagai wahyu ilahi melalui penafsiran, sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan, walaupun tidak jarang dirasakan adanya
“pemaksaan-pemaksaan”dalam penafsiran tersebut yang antara lain diakibatkan
oleh keinginan untuk membuktikan kebenaran ilmiah melalui Al Qur’an, dan bukan
sebaliknya.
Corak penafsiran ilmiah ini telah lama di kenal.
Benihnya bermula pada masa dinasti abbasiyah, khususnya pada masa pemerintahan
Khalifah Al-Ma’mun (w. 1059-1111M) yang secara panjang lebar dalam kitabnya ihya’
‘ulum Al-Din dan jawahir Al qur’an mengemukakan alasan-alasan yang
membuktika pendapatnya itu. Al Ghazali mengatakan bahwa : “Segala macam ilmu
pengetahuan, baik yang terdahulu (masih ada atau telah punah), maupun yang
kemudian ; baik yang telah diketahui maupun belum, semua bersumber dari Al
Qur’an Al Karim.
Hal ini, menurut Al Ghazali, karena segala macam ilmu
termasuk dalam af’al (perbuatan-perbuatan) Allah dan sifat-sifat NYA.
Sedangkan Al Qur’an menjelaskan tentang zat, af’al dan sifat-NYA. Pengetahuan
tersebut tidak terbatas. Dalam Al Qur’an terdapat isyarat-isyarat menyangkut
prinsip-prinsip pokoknya. Hal terakhir ini, antara lain, dibuktikan dengan
mengemukakan ayat, “Apabila aku sakit maka Dia-lah yang mengobatiku”
(QS 26:80).
“Obat” dan “penyakit”, menurut Al Ghazali, tidak dapat
diketahui kecuali oleh orang yang berkecimpung di bidang kedokteran. Dengan
demikian, ayat di atas merupakan isyarat tentang ilmu kedokteran.
| 12
Korelasi antara Al Qur’an dan Ilmu
Pengetahuan
Membahas hubungan antara Al Qur’an
dan ilmu pengetahuan bukan dinilai dari banyak atau tidaknya cabang-cabang ilmu
pengetahuan yang dikandungnya, tetapi yang lebih utama adalah melihat : adakah
Al qur’an atau jiwa ayat-ayatnya menghalangi ilmu pengetahuan atau mendorongnya,
karena kemajuan ilmu pengetahuan tidak hanya diukur melalui sumbangan yang di
berikan kepada masyarakat atau kumpulan ide dan metode yang dikembangkannya,
tetapi juga pada sekumpulan syarat-syarat psikologis dan social yang
diwujudkan, sehingga mempunyai pengaruh (positif atau negative) terhadap
kemajuan ilmu pengetahuan.
Sejarah membuktikan bahwa Galileo
ketika mengungkapkan penemuan ilmiahnya tidak mendapat tantangan dari satu
lembaga ilmiah, kecuali dari masyarakat dimana ia hidup. Mereka memberikan tantangan
kepadanya atas dasar kepercayaan agama. Akibatnya, Galileo pada akhirnya
menjadi korban penemuannya sendiri.
Dalam Al qur’an ditemukan kata-kata
“ilmu” dalam berbagai bentuknya yang terulang sebanyak 854 kali. Disamping itu,
banyak pula ayat-ayat Al qur’an yang menganjurkan untuk menggunakan akal
pikiran, penalaran, dan sebagainya, sebagaimana dikemukakan oleh ayat-ayat yang
menjelaskan hambatan kemajuan ilmu pengetahuan, antara lain :
1. Subjektivitas
(a) suka dan tidak suka (baca antara lain, QS 43:78 ; 7:79); (b) taqlid atau
mengikuti tanpa alasan (baca antara lain, QS 33:67 ; 2:170).
2. Angan-angan
dan dugaan yang tak beralasan (baca antara lain, QS 10:36).
3. Bergegas-gegas
dalam mengambil keputusan atau kesimpulan (baca antara lain QS 21:37).
4. Sikap angkuh
(enggan untuk mencari atau menerima kebenaran) (baca antara lain QS 7:146).
| 13
Di samping
itu, terdapat tuntutan tuntutan antara lain :
1. Jangan
bersikap terhadap sesuatu tanpa dasar pengetahuan (QS 17:36), dalam arti tidak
menetapkan sesuatu kecuali benar-benar telah mengetahui dulu persoalan (baca
antara lain QS 36:17), atau menolaknya sebelum ada pengetahuan (baca antara
lain, QS 10:39).
2. Jangan
menilai sesuatu karena factor ekstern apa pun walaupun dalam dalam pribadi
tokoh yang paling diagungkan.
Ayat- ayat semacam inilah yang
mewujudkan iklim ilmu pengetahuan dan yang telah melahirkan pemikir-pemikir dan
ilmuwan-ilmuwan Islam dalam berbagai disiplin ilmu. “tiada yang lebih baik
dituntun dari suatu kitab akidah (agama) menyangkut bidang ilmu kecuali anjuran
untuk berpikir, serta tidak menetapkan suatu ketetapan yang menghalangi umatnya
untuk menggunakan akalnya atau membatasinya menambah pengetahuan selama dan
dimana saja ia kehendaki. Inilah korelasi pertama dan utama antara Al qur’an
dan ilmu pengetahuan.
Korelasi kedua dapat ditemukan pada
isyarat-isyarat ilmiah yang tersebar dalam sekian banyak ayat Al qur’an yang
berbicara tentang alam raya dan fenomenanya. Isyarat-isyarat tersebut sebagian
nya telah diketahui oleh masyarakat arab ketika itu. Namun apa yang mereka
ketahui itu masih sangat terbatas dalam perinciannya.
Dalam dalam penafsiran ilmiah
terhadap ayat-ayat Al qur’an, membawa kita kepada, paling tidak, tiga hal pula
hal yang perlu di garisbawahi, yaitu (1) Bahasa (2) konteks ayat-ayat ; dan (3)
sifat penemuan ilmiah.
| 14
1. Bahasa
Disepakati oleh semua pihak bahwa
untuk memahami kandungan Al qur’an dibutuhkan pengetahuan bahasa arab. Untuk
memahami arti suatu kata dalam rangkaian redaksi suatu ayat, seorang terlebih
dahulu harus meneliti apa saja pengertian yang dikandung oleh kata tersebut.
Kemudian menetapkan arti yang paling tepat setelah memperhatikan segala aspek
yang berhubngan ayat tadi.
2. Konteks
antara kata atau ayat
Memahami pengertian suatu kata dalam
sdalam rangkaian satu ayat tidak dapat dilepaskan dari konteks kata tersebut
dengan keseluruhan kata dalam redaksi ayat tadi.
3. Sifat
penemuan ilmiah
Seperti telah dikemukakan di atas
bahwa hasil pemikiran seseorang dipengaruhi oleh banyak factor, antara lain,
perkembangan ilmu pengetahuan dan pengalaman-pengalamannya. Perkembangan ilmu
pengetahuan sudah sedemikian pesatnya, sehingga dari faktor ini saja pemahaman
terhadap redaksi Al qur’an dapat berbeda-beda.
Seperti yang telah dikemukakan bahwa
salah satu pembuktian tentang kebenaran
Al qur’an adalah ilmu pengetahuan dari berbagai
disiplin yang diisyaratkan. Memeng terbukti, bawa sekian banyak ayat-ayat Al
qur’an yang berbicara tentang hakikat ilmiah yang tidak dikenal pada masa
turunnya, namu terbukti kebenarannya di tengah-tengah perkembangan ilmu,
seperti :
| 15
- Teori tentang expanding universe (kosmos yang
mengembang) (QS 51:47 ).
- Matahari adalah planet yang bercahaya sedangkan
bulan adalah pantulan dari cahaya matahari (QS 10:5).
- Pergerakan bumi mengelilingi matahari, gerakan
lapisa-lapisan yang berasal dari perut bumi, serta bergeraknya gunung sama
dengan pergerakan awan (QS 27:88).
- Zat hijau daun (klorofil) yang berperanan dalam
mengubah tenaga radiasi matahari menjadi tenaga kimia melalui proses foto
sintesis sehingga menghasilkan energy (QS 36:80).bahkan,
istilah Al qur’an, al syajar al akhdhar
(pohon yang hijau) justru lebih
tepat dari istilah klorofil (hijau
daun), karena zat-zat tersebut bukan hanya terdapat dalam daun saja tapi di
semua bagian pohon, dahan dan ranting yang warnanya hijau.
- Bahwa manusia diciptakan dari sebagian kecil
sperma pria dan yang setelah fertilisasi (pembuahan) berdempet di
dinding rahim (QS 86:6 dan 7; 96:2).
Contohnya juga, para ulam menafsirkan arti kata al
‘alaq dalam ayat-ayat yang menerangkan proses kejadian janin dengan al-dam
al-jamid atau segumpal darah yang beku. Dan dapat disimpulkan bahwa proses
kejadian manusia terdiri atas lima periode : (1) Al-Nuthfah; (2) Al
‘Alaq; (3) AL-Mudhghah; (4) Al-Idzam; dan (5) Al-Lahm.
Apabila seseorang mempelajari embriologi dan percaya akan
kebenaran Al qur’an, maka dia sulit menafsirkan al-‘alaq tersebut dengan
segumpal darah yang beku. Menurut embriologi,
proses kejadian manusia terbagi dalam tiga periode :
1) Periode Ovum
2) Periode
Embrio
3) Periode
foetus
Demikian seterusnya, sehingga amat tepatlah kesimpulan
yang dikemukakan oleh Dr. Maurice Bucaille dalam bukunya Al-Qur’an, Bible
dan sains Modern, bahwa tidak satu ayat pun dalam Al qur’an yang
bertentangan dengan ilmu pengetahuan.
| 16
BAB V
PENUTUP
Kesimpulan
Manusia adalah
satu-satunya makhluk yang Allah karuniakan akal sebagai alat untuk berfikir.
Dengan akal manusia mampu menyerap ilmu pengetahuan dan menciptakan teknologi,
serta manghasilkan karya seni, sehingga dapat menciptakan peradaban di muka
bumi. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia melalui
tangkapan pancaindra intuisi dan firasat. Jadi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
serta Seni dalam islam sangat mempengaruhi bagi kemajuan agama islam.
Untuk itu setiap muslim harus bisa
memanfaatkan alam yang ada untuk perkembangan iptek dan seni, tetapi harus
tetap menjaga dan tidak merusak yang ada. Yaitu dengan cara mencari ilmu dan
mengamalkanya dan tetap berpegang teguh pada syari’at Islam.
| 17
Daftar pustaka
Mansoer,Hamdan,dkk.2004.ilmu pengetahuan teknologi dan seni dalam
islam.Jakarta:Departemen agama RI.
Aminuddin,dkk.2005.islam pengetahuan dan teknologi .Bandung:PT
Ghalia Indonesia.
Imtihana,Aida,dkk.2009.pendidikan agama islam untuk perguruan tinggi
umum.Palembang:Universitas Sriwijaya.
Faridi. 2002. Agama Jalan Kedamaian. Jakarta:
Ghalia Indonesia.
Bakhtiar,Amsal.2010.filsafat ilmu.Jakarta:PT Raja Grafindo Persada.
Kumpulan
Materi Responsi Al-Quran Kampus STMIK MJ Bekasi